Dewi Sartika

Dewi Sartika, Pahlawan Perintis Pendidikan Bagi Kaum Wanita

Pahlawan berikutnya berasal dari kaum wanita, yaitu Raden Dewi Sartika yang merupakan seorang advokat dan tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita. Menjadi salah satu tokoh wanita yang terkenal, ia diakui sebagai Pahlawan Indonesia pada tahun 1966. Sartika berasal dari keluarga Sunda, yaitu R. Rangga Somanegara dan R. A Rajapermas di Cicalengka pada tahun 1884. Ketika ia masih kecil, setelah pulang sekolah ia selalu bermain dengan peran sebagai seorang guru dengan teman temannya. Ayahnya meninggal, dan ia harus tinggal dengan pamannya. Kartika mendapatkan pendidikan sesuai dengan budaya Sunda dari pamannya, walaupun sebelumnya ia menerima budaya barat. Kemudian pada tahun 1899, ia pindah ke Bandung.

Di tahun 1904, ia mendirikan sebuah sekolah bernama Sakola Istri di Pendopo Kabupaten Bandung atas dukungan kakeknya yang saat itu menjadi Bupati Bandung Raden Adipati Aria Martanegara. Sekolah itu kemudian dibangun kembali di Ciguriang, dan namanya berubah menjadi Sakola Kaoetaman Istri yang artinya Sekolah Keutamaan Perempuan di tahun 1910. Disana ia mengajar wanita untuk membaca, menulis, menghitung, pendidikan agama dan berbagai keterampilan. Dua tahun kemudian, sudah tersedia 9 sekolah yang menyebar di seluruh Jawa Barat. Dan kemudian berkembang menjadi satu sekolah di setiap kota dan kabupaten pada tahun 1920. Kemudian pada tahun 1922, sekolah itu berganti nama menjadi Sakola Raden Dewi.

INFORMASI TENTANG RADEN DEWI SARTIKA

  • Nama Lengkap : Raden Dewi Sartika
  • Tanggal Lahir : 4 Desember 1884
  • Tempat Lahir : Cicalengka, Bandung
  • Wafat : 11 September 1947
  • Kebangsaan : Indonesia
  • Pasangan : Raden Kanduruhan Agah Suriawinata
  • Dikenal Sebagai : Pahlawan Nasional, Perintis Pendidikan Wanita

MASA KECIL

Sartika dikenal sebagai Pahlawan Nasional, yang memperjuangkan pendidikan perempuan tanah Sunda. Sejak kecil ia hidup dilingkungan yang membentuk karakternya menjadi pejuang pendidikan. Ia berasa dari keluarga priyayi Sunda, yang membuka jalan pendidikan untuknya di mana pada saat itu tidak semua wanita bisa mendapatkan pendidikan. Minatnya dalam pendidikan sudah terlihat sejak ia masih kecil. Saat ia tinggal dengan pamannya di Bandung, Sartika sering memperhatikan cara belajar anak Belanda di sekolah. Rasa ingin tahu yang tinggi, membuat dirinya mencoba mengajari anak sekitar rumahnya tentang membaca, dan menghitung. Walaupun mengajar dengan alat tulis yang terbatas, ia berhasil memberi dasar dasar pendidikan.

Atas dukungan dari keluarganya yang berpendidikan, serta kecerdasan alami yang ia miliki menjadikannya lebih bertekad untuk memperjuangkan pendidikan bagi kaum wanita. Walaupun tidak mudah karena harus melewati tantangan yang besar, ia yakin pendidikan dapat merubah nasib wanita saat itu karena budaya dan adat. Pada tahun 1904, ia membangun sekolah pertamanya yang bernama Sakola Istri di Pandopo Kabupaten Bandung. Sekolah ini berkembang, dan menjadi inspirasi banyak sekolah wanita lainnya di Indonesia. Karena berasal dari keluarga yang terpandang, ia menerima pendidikan dengan mudah dan layak saat itu.

PERJUANGAN DEWI SARTIKA MEMBANGUN SEKOLAH

Berasal dari keluarga yang terpandang, Sartika menerima hak istimewa yang tidak bisa didapat anak seusianya saat itu. Namun keberuntungan itu tidak bertahan lama, karena pada tahun 1893 terjadi peristiwa yang memilukan pada keluarga nya. Saat itu ayahnya dituduh memasang peledak, dan karena ini ia dibuang ke Ternate bersama dengan istrinya. Pemerintah juga menyita seluruh harta benda milik keluarganya. Akibatnya keluarga Sartika kehilangan seluruh hak mereka, walaupun sebelumnya berasal dari keluarga terpandang. Karena ini juga mengharuskan Sartika untuk tinggal bersama dengan kakak kandung dari ibunya. Karena tumbuh sebagai anak titipan, ia kadang mendapat perlakuan berbeda sampai pendidikan yang terbatas.

Setelah masa pengasingan berakhir, ibunya kembali namun sayangnya ayah Sartika sudah meninggal dunia. Kembali berkumpul dengan ibunya, ia kembali menuju Bandung dari Cicalengka. Mulai dari saat itu, ia mulai bertekad besar untuk mendirikan sekolah untuk kaum wanita. Belajar dari penderitaan ibunya karena ditinggal ayahnya saat diasingkan ke Ternate. Tidak setengah setengah, demi mencapai keinginannya dirinya langsung menemui Bupati  Bandung RAA. Martanegara. Ia adalah orang yang berpikiran lebih maju, dan langsung menyetujui ide dari Sartika. Pada tahun 1904, sekolah khusus wanita berhasil didirkan oleh Sartika di Pendopo Kabupaten Bandung.

PENINGGALAN

Sekolah Kautamaan Istri merupakan sebuah pegangan penting, untuk masyarakat khusus nya wanita Indonesia terutama di Jawa Barat. Sekolah tersebut dibangun oleh Dewi Sartika Pahlawan Nasional yang dikenal atas jasa nya untuk mengembangkan pendidikan bagi kaum wanita. Dari usianya masih kecil, minatnya dalam pendidikan sudah ia tunjukkan. Ia termotifasi dari pendidikan barat yang diajarkan dari Belanda. Sartika mulai mengerti bahwa pentingkan pendidikan untuk wanita, yang dimana pada saat itu sangat terbatas. Kaum wanita sering kali hanya diajarkan keterampilan setempat tanpa akses pada ilmu pengetahuan yang formal. Kemudian pada tanggal 16 Januari 1904, ia membangun Sekolah Keutamaan Istri di rumah orang tua nya di Bandung yang menjadi sekolah pertamanya di Jawa Barat khusus untuk perempuan pribumi. Sekolah tersebut mengajarkan pendidikan dasar seperti menulis, membaca, menghitung serta keterampilan rumah tangga seperti memasak, menjahit dan mengelola keuangan keluarga.

Targetnya untuk membekali perempuan dengan pengetahuan, dan keterampilan guna untuk menjadi ibu dan istri yang cerdas dikehidupan sehari hari. Sekolah Keutamaan Istri menerima sambutan hangat dari masyarakat, dan jumlah murid yang terus bertambah. Berkat dukungan dari masyarakat dan pemerintahan Hindia Belanda, sekolah tersebut berkembang dan memiliki cabang di beberapa kota di Jawa Barat. Di tahun 1910, Sekolah Keutamaan Istri menjadi modal pendidikan perempuan yang banyak di adopsi di wilayah Indonesia. Keberhasilannya mengelola Sekolah Keutamaan Istri, merupakan bukti nyata dari kegigihannya untuk memperjuangkan kemajuan pendidikan perempuan Indonesia. Melalui sekolah tersebut, ia dapat membuka jalan untuk perempuan mendapat pendidikan yang sama dengan kaum laki laki serta aktif dalam pembangunan masyarakat. Pada tanggal 17 September 1947, Dewi Sartika meninggal dunia namun warisannya dalam pendidikan perempuan masih tetap hidup dan diingat sampai saat ini. Pada 1 Desember 1966, ia diakui sebagai gelar Pahlawan Nasional.

Baca Juga : Drama China To Love Kisah Cinta Dalam Lilitan Gembong Narkoba